Biografi Achmad Alfatich AR

INDONESIASATU.CO.ID:

JOMBANG - Nama lengkap beliau adalah Achmad Alfatich AR. Dua huruf di belakang beliau ia cantumkan karena adanya rindu yang amat mendalam pada sang ayah, yang belum sempat ia ingat dengan baik rupa, figur dan sosoknya. Ia lahir 27 Desember 1933 sebagai anak pertama, dan ditinggal wafat oleh ayahnya, Abdurrochim pada usia yang masih sangat belia.

Achmad Alfatich dikenal sebagai pemuda yang progresif dan berfikiran maju pada zamannya. Namun karakter kesehariannya justru low profile dan rendah hati. Tidak menyukai banyak bicara, bahkan tentang hal-hal yang strategis apapun yang sedang dilakukannya. Itulah tipikal yang khas; sedikit bicara, tenang dan dingin dalam bekerja.

Achmad Alfatich hidup dan besar di Yogyakarta pada zaman kemerdekaan. Teman-temannya mengenal beliau mengerti banyak bahasa. Wajar, memang itulah tipikal orang-orang yang hidup di zaman pergerakan kemerdekaan. Beliau sudah mengenal pendidikan formal dan bangku kuliah di perguruan tinggi pada saat lingkungan masih menabukan model seperti itu. Hal demikian tidak mengherankan ketika mengetahui bahwa Achmad Alfatich adalah pemuda yang berasal dari dua kutub besar. Abdurrochim ayahnya adalah adik KH. A Wahab Chasbullah, pendiri dan penggerak NU. Sedangkan Siti Wardiyah ibunya adalah keponakan KH. Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Achmad Alfatich mendapatkan pendidikan awal di MI Tambakberas, lalu melanjutkan pendidikan menengahnya di Sekolah Guru Hakim Agama (SGHA) Yogyakarta, sembari mengaji pada kiai Munawir Krapyak. Dimasa ini ketika IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlotul Ulama) didirikan, Achmad Alfatich muda didapuk sebagai sekjen, mendampingi Tholchah Mansoer sebagai ketua umumnya, itulah pengurus IPNU pertama kali.

Seusai dari SGHA, Achmad Alfatich melanjutkan kesarjanaan di UII, kampus tempat kakak sepupunya Najib Wahab juga menimba ilmu. Kelak dua saudara ini berkesempatan melanjutkan kuliahnya ke Cairo, namun karena satu hal dan situasi, Achmad Alfatich urung berangkat dan kemudian kembali pulang dan menetap di Tambakberas.

Yogyakarta yang dinamis, Jombang yang kritis, ada tempo yang berbarengan, denyut nadi aktifitas Madrasah di Pesantren Tambakberas kurang berjalan lancar. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pelaksanan kegiatan madrasah, hendak melanjutkan kegiatan belajarnya ke Mesir. Memang, hubungan RI dan Mesir sebagai -new emerging forces- saat itu sangat bagus, sehingga banyak pemuda Indonesia yang diundang dan dikirim menimba ilmu kesana, di Al Azhar University. Dan betul beberapa waktu kemudian, pesantren dan madrasah mengalami management lose setelah ditinggal Abdurrahman Wahid kesana.

KH. Abdul Fatah Hasyim, yang mengasuh segenap kegiatan pesantren dan madrasah (saat itu belum bernama Bahrul Ulum), akhirnya memerintah pulang Achmad Alfatich dan menugaskanya menjaga melangsungan kegiatan madrasah, melanjutkan apa yang telah dilaksanakan Abdurrahman Wahid dengan baik.

Beliau kembali ke Tambakberas pada awal tahun 60-an atas perintah kyai Fattah. Bahkan ia dijemput langsung oleh kyai Fattah di Yogyakarta dengan tujuan mengelolah Mu’allimin. Dan dengan keseriusan permintaan tersebut, ia dibuatkan rumah yang sekarang ialah ndalem Pondok Pesatren Al-Ghozali Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Dengan pengalaman ia di Jogja, Kauman, yang kental dengan pendidikan Muhammadiyah lama diadukan dengan pondasi pesantren salaf ditambah dengan wawasan ia pada zaman perjuangan, membuat ia memiliki pemikiran yang progresif tapi tidak lepas dari prinsip Kepesantrenannya. Tidak heran beliau sudah berkacimpung mengurusi Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Tambakberas. Beliau menciptakan sistem modern tetapi tidak lepas dari kultur “kemu’alliminan”. Yang mana pada zaman itu hal tersebut adalah inovasi baru.

Beliau memprakarsai terbentuknya sistem “kelas baru” (baca;modern) dan memaksa perintah lebih memperhatikan Pendidikan dilingkungan Pesantren. Hal ini terbukti dengan beralihnya Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Tambakberas saat itu menjadi Madrasah Negeri dan terbentuklah 2 lembaga pendidikan yaitu Mts-AIN dan MA-AIN. Walapun sudah menjadi Negeri, namun mu’allimin berjalan dengan kurikulum ke-mu’alliminannya. Tetap saja hal tersebut menimbulkan pro dan kontra, karena ada beberapa pihak yang kurang setuju dengan peralihan Mu’allimin menjadi Negeri.

Beliau disebut-sebut sebagai orang yang hidup di 2 kutub, yaitu kutub NU dari Jombang dan kutub Muhammadiyah dari Jogja, beliau juga disebut sebagai pendiri IPNU pertama kali saat itu didirikan di Jogja. Beliau dikenal sebagai pribadi yang fleksibel seperti KH. A Wahab Chasbullah dan juga memiliki wawasan yang luas. Hal ini terbukti penguasaan beliau akan 8 bahasa yang berbeda. Penguasaan akan beragam bahasa berbeda, beliau aplikasikan dalam pengajaran, sehingga ketika maknani kitab, beliau lebih sering memakai bahasa modern dari pada bahasa jawa klasik.

Istri beliau yang bernama bu nyai Muchtarotul Mardliyah, puteri dari KH. Abdul Fattah Jalalain, kertosono, dimana ia adalah kakak dari KH. Badrus Sholeh, Pengasuh Pondok Purwoasri-Kediri. Dan beliau di karuniai enam anak yaitu empat putra dan dua putri. Pernikahan beliau tidak lain karena hasil perjodohan Kyai Wahab yang dilagsungkan pada tahun 60-an. Pernikahannya bisa dikatakan telat bila dibandingkan dengan adik-adiknya, dikarenakan padatnya aktifitas beliau kala itu.

Dalam mendidik anak-anak, beliau dikenal disiplin dan berpandangan bahwa Bahrul Ulum adalah kombinasi Pondok Pesantren, dimana Pondok itu bersifat modern dan Pesantren yang bersifat salaf. Jadi seorang santri itu harus berwatak pesantren dan progresif. Kembali pada motto Al-mukhafadhoh ala Al-Qodim As-Shalih wa Al-Akhdzu bi Al-Jadid Al-Ashlah yang diwujudkan dari motto tersebut menjadi Pondok Pesantren. Achmad Alfatich meninggal menghadap sang kholiq pada tanggal 22 Muharram 1416 bertepatan dengan 09 Juni 1996.

(Muhammad Choirurrojikin)

  • Whatsapp

Index Berita