Kisah Haru Dibalik Penciptaan Aplikasi NU Kids

INDONESIASATU.CO.ID:

JOMBANG - Berkenalan sekilas dengan Kirana tidak akan mengira bahwa pria asal Jombang itu adalah seorang programer handal. Penampilannya khas santri pada umumnya, berkacamata, memakai kopiah, celana panjang dan baju kemeja. Sikapnya yang ramah menunjukkan jika ia santri tulen Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Di usianya ke 23 tahun, Kirana merupakan  programer pembuat aplikasi NU Kids. Aplikasi tersebut memuat berbagai macam hal yang berkaitan dengan NU, pesantren dan Islam. NU Kids menyajikan beberapa materi terkait sejarah NU, pendiri NU, dan budaya apa saja yang ada di dalam NU. 

Selain menu materi, dalam aplikasi game ini juga terdapat menu minigames, pada menu ini anak dapat bermain game asah otak ringan untuk mematangkan apa yang sudah dipelajari pada menu. Aplikasi ini untuk anak-anak di tingkat sekolah dasar agar memiliki wawasan tambahan terkait ke-NU-an.

Isi permainannya lainnya seperti stage ziarah, memasang jadwal kegiatan santri di pondok pesantren, tebak gambar tokoh-tokoh pendiri NU, tebak lokasi makam wali 9.

Aplikasi ini diluncurkan secara resmi oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, aplikasi ini sudah dapat diunduh di Play Store. "Aplikasi ini resmi diluncurkan berbarengan dengan musyawarah kerja (musker) ke-II PCNU Jombang di Universitas KH A Wahab Hasbullah Tambakberas di kemarin," kata Kirana kepada NU Online, Senin (6/8)

NU Kids sebenarnya bukan aplikasi pertama yang dibuat Kirana. Ia sering membuat aplikasi game dan menerima jasa pembuatan website. Nama studio yang digunakan di Play Store bernama Nano Pintar. Selain NU Kids, ada delapan aplikasi lain yang telah dirilis Nano Pintar dan sebagian besar bertema Islam untuk anak-anak. Seperti Besut's Solving Route (Aritmatika dasar sambil mengenalkan icon Kota Jombang), belajar azan lengkap, belajar bahasa arab, belajar membaca Iqro, puzzle anak muslim, sifat Allah, bug flap dan patrol sahur.

“Ide pembuatan aplikasi ini berangkat dari kegalauan saya memikirkan skripsi dan muncul lah ide membuat aplikasi NU Kids. Di awal presentasi dihadapan dosen pembimbing saya sempat ragu akan ide ini. Namun saya berusaha menyakin diri dan dosen untuk terus maju hingga terwujud aplikasi NU Kids. Untuk penyempurnaan saya dibantu oleh teman-teman,” ujarnya

Alumni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) TI Bahrul Ulum Tambakberas tersebut ingin mengembangkan diri terus tanpa henti. Hal ini didorong untuk membanggakan orang tua dan bermanfaat buat agama serta negara. Sehari-hari untuk tempat berteduh dari panas dan hujan ia mengontrak di Desa Sambongdukuh, Kecamatan Jombang.

“Ayah saya bernama Slamet, sehari-hari bekerja sebagai tukang becak, sementara ibu sudah lama meninggal dunia. Kalau saya tidak bekerja keras dan berkarya maka nasib keluarga kami tidak berubah,” tambah Kirana.

Kesuksesan Kirana tidak didapat begitu saja. Pasca lulus SMK TI ia sempat mengajar di almamaternya. Namun sejak fokus pada skripsi ia memutuskan istirahat dan hanya menerima job dari pelanggan. Anak bungsu dari lima saudara ini juga harus berjuang membayar kuliah sendiri. Sehingga harus membagi waktu antara kuliah dan kerja.

"Saya semester akhir, tahun ini wisuda. Untuk info lebih lanjut tentang NU Kids bisa dicek di Instagram kita @nukirsgame. Niat saya buat aplikasi ini karena kecintaan pada NU saja. Karena manut pesannya KH Abdul Wahab Hasbullah kalau santri Bahrul Ulum harus mau merawat NU dan membesarkan NU. Itu saja,” pungkasnya. (Syarif Abdurrahman/kusnoaji)

  • Whatsapp

Index Berita