Paguyuban Pasar Menyerahkan Kasus Revitalisasi Pasar "Dewi sri" kepada Kuasa Hukum

INDONESIASATU.CO.ID:

Pujon:Menindak lanjuti beberapa kejanggalan pada kasus revitalisasi pasar "Dewi sri" Pujon kabupaten Malang,pada Rabu 11/9/2018 paguyuban pedagang pasar "Dewi sri"mengadakan pertemuan antara pedagang pasar,masyarakat pengguna air dan kuasa hukum juga wartawan.Pertemuan yang diadakan di Pujon kabupaten Malang tersebut dijadwalkan jam 09.00 pagi akhirnya baru dimulai sekitar 1 jam kemudian karena kuasa hukum terlambat hadir disebabkan ada acara di tempat lain sebelumnya.

Karena keterlambatan dimulainya acara,menyebabkan beberapa pedagang sudah ada yang meninggalkan tempat pertemuan karena harus berjualan juga kesibukan yang lain dan sekitar 35 orang pedagang masih tetap setia menunggu acara dimulai.Namun hal tersebut tidak mengurangi antusias dan semangat pedagang untuk tetap mengikuti arahan juga pencerahan hukum dari kuasa hukum yang telah ditunjuk.

"Kami ini hanya seorang pedagang kecil pak dan tidak paham masalah hukum,kalau kami ditakut-takutin sama pengelola pasar (PD Jasa yasa) andaikan kami tidak mau membayar uang muka sebesar 5 juta untuk peremajaan bedak yang baru,dipastikan kami tidak bisa berjualan dan mencari nafkah.Walaupun kami tidak atau belum sepakat mengenai harga bedak baru yang harganya sangat tinggi,terpaksa kami bayar 5 juta sebagai uang muka,"kata seorang pedagang wanita.

Salah seorang pedagang lain juga menambahkan,"Dari uang muka 5 juta itupun yang menambah berat beban pedagang adalah 70% dari nilai harga bedak harus dibayar secara kredit selama 5 tahun dan kalau tidak bisa membayar kami akan diusir dari bedak kami."Dan pedagang mengkhawatirkan untuk pelunasan yang 70% itu dileasingkan di bank oleh investor.Bertambah berat beban bunga yang harus kami tanggung,"jelas salah seorang pedagang  berumur 60 tahun.

Masalah kasus revitalisasi pasar "Dewi sri" ini sangat kompleks.Bukan hanya pedagang yang mengeluh tentang harga bedak baru yang sangat tinggi,tapi juga pengerjaan proyek tanpa melewati ijin AMDAL dahulu.Dan pengerukan tanah tebing yang sangat merusak lingkungan sekitar pasar.Dan sudah terbukti apabila hujan air mengalirkan tanah becek kearah jalan dan proses pengerukan tebing yang terletak di atas pasar menyebabkan polusi debu juga sangat mengganggu pedagang yang berjualan di pasar di bawah tebing yang dikeruk.

Bahaya longsor juga mengintai,apabila tebing longsor karena hujan dan menimpa pedagang pasar "Dewi sri"di bawahnya."Kalau itu terjadi,siapa yang mau bertanggung jawab,"kata Amin ketua paguyuban.

Wakil dari masyarakat pengguna air juga mengkhawatirkan sumber air di sekitar pasar juga akan rusak lingkungannya karena pengerukan,disebabkan patok pengerukan jaraknya kurang lebih 17 meter dari sumber mata air.

Dari pertemuan diatas pedagang sepakat agar menyerahkan proses kasus revitalisasi yang melanggar undang-undang ini kepada kuasa hukum yang telah mereka tunjuk,agar kuasa hukum segera menindak lanjutinya.(Hendro B.L)

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita